BELAJAR DARI SPRINTER JUARA DUNIA OLIMPIADE ATLETIK 2017

Minggu dini hari WIB, siaran langsung tentang kejuaraan olimpiade atletik 2017 di London yang disiarkan oleh salah satu TV berbayar meliput perlombaan paling bergengsi di kejuaraan atletik, yaitu lari 100 M Putra. Juara dunia lari 100 M ini memiliki julukan yang sangat membanggakan yaitu manusia tercepat di dunia. Saat itu terdapat 8 pelari yang akan berlomba di babak final, terdapat 2 nama yang paling top dari 8 sprinter finalis tersebut, yaitu Usain Bolt dari Jamaika yang selama ini adalah juara dunia di nomor ini, dan pesaing terdekatnya yaitu Justin Galtin dari Amerika Serikat.

Didepan para penggemar Atletik khususnya lari 100 M Putra kedua pelari tersebut memiliki penilaian dari para penonton yang berbeda. Usain Bolt merupakan atlet yang dicinta oleh para penggemarnya, sedangkan kebalikannya Justin Galtin menjadi atlet yang selalu di teriaki dengan nada ejekan oleh para penonton di stadion. Usain Bolt memang memiliki karakter yang lebih ramah, ceria, dan menghibur, sedangkan Justin Galtin memiliki karakter yang tegang, dingin, dan tidak ramah. Selalu saja ketika nama Usain Bolt dipanggil orang akan bersorak dan berbagai reaksi yang menunjukkan penghormatan pada Usain Bolt ketika memasuki lapangan. Hal tersebut sangat kontras ketika nama Justin Galtin yang disebut dan dipanggil oleh announcer untuk masuk ke lintasan lari. Teriakan yang bernada mengejek dan tidak suka akan menggema di seluruh stadion.

Hari itu memang merupakan pertandingan terakhir bagi Bolt untuk even internasional, namun di hari itu Bolt tidak lagi mampu menjadi manusia tercepat sebagaimana julukan untuk pelari sprinter 100 M. Bolt hanya mampu meraih posisi ke 3. Pelari tercepat justru adalah Justin Galtin yang selama ini selalu lebih lambat dari Usain Bolt. Kemenangan Galtin ini bukan disambut dengan apresiasi yang baik oleh para penonton, malah di apresiasi dengan teriakan ejekan. Fenomena menarik justru terjadi usai pertandingan yang hanya berjalan sekitar 9 detik tersebut. Galtin yang menjuarai nomor atletik yang paling bergengsi tersebut memberikan penghormatan kepada Usain Bolt yang hanya berada pada posisi ke 3 dengan cara berjongkok seperti orang menyembah. Suasana menjadi terlihat dramatis ketika Bolt merangkulnya dan kemudian mengatakan “kamu tidak berhak menerima teriakan seperti itu” (Kompas, 7 Agustus 2017).

Fenomena penghormatan Galtin sebagai juara kepada Bolt sebagai orang yang kalah tersebut merupakan sesuatu yang sangat menarik. Betapa kebesaran hati dinampakan dengan sangat jelas dalam diri atlet-atlet tersebut yang dapat menjadi teladan bagi semua kegiatan manusia. Sebagaimana disadari banyak orang, kehidupan kita juga seringkali tidak bisa terhindarkan adanya perlombaan-perlombaan yang kemudian menghasilkan suasana menang atau kalah. Dalam dunia pendidikan, bisnis, manajemen, dan berbagai hal akan ditemui hal-hal yang akan menghasilkan suasana menang kalah tersebut. Didunia bisnis untuk mendapatkan pekerjaan seringkali dilakukan dengan cara lelang, yang tentu saja akan menghasilkan satu keputusan pemenang lelang. Didunia pendidikan karena keterbatasan tempat akan diadakan seleksi yang kemudian menghasilkan kondisi ada yang diterima dan ada yang gagal. Dalam lingkup manajemen akan selalu dilakukan seleksi untuk memilih manajer atau pemimpin, dan itu juga akan menghasikan suasana yang mana hanya satu orang yang terpilih dari 2 atau lebih kandidat. Demikian juga dibanyak fenomena kehidupan lainnya.

Menghormat dan memberikan apresiasi merupakan satu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bahkan untuk kemampuan ini sekolah mengajarkannya dari sekolah Pendidikan Usia Dini sampai dengan sekolah formal terakhir yang bisa diikuti oleh seseorang yang ingin mendapatkan ijazah formal. Demikian juga pada sekolah-sekolah berbasis agama, apakah itu sekolah keagamaan ataupun pondok pesantren juga selalu mengajarkan bagaimana menghormat dan memberikan apresiasi ini.

Seseorang pasti akan senang mendapatkan penghormatan atau mendapatkan apresiasi dari apa yang dilakukannya. Dalam organisasi, penghormatan dan apresiasi digunakan untuk beragam keperluan terkait dengan kepemimpinan dan pengelolaan SDM yang pada intinya adalah untuk meningkatkan produktifitas SDM dengan melalui pemberian motivasi. Penghormatan dan apresiasi memang akan berdampak pada peningkatan motivasi jika diberikan secara tepat dan dalam bentuk yang tepat. Penghormatan dan apresiasi akan sangat tepat jika diberikan seseorang sesuai dengan harapannya, tidak selalu hadiah-hadiah yang bernilai material tersebut cocok untuk mengapresiasi prestasi seseorang, kadang kala hanya diperlukan pujian-pujian atau pengakuan-pengakuan saja.

Apresiasi dapat merupakan wujud dari penghormatan. Seseorang melakukan penghormatan kepada orang lain dengan cara memberikan apresiasi kepada orang tersebut. Atau dapat juga sebaliknya, orang dapat memberikan apresiasi melalui penghormatan. Penghormatan hanya merupakan salah satu bentuk dari apresiasi. Apresiasi pada dasarnya digunakan untuk memperkuat respon seseorang sesuai dengan yang diinginkan orang yang memberi apresiasi. Seorang marketing yang mampu memberikan penjualan lebih baik, kemudian diberi apresiasi oleh atasannya dengan harapan agar mampu mempertahankan atau meningkatkan penjualannya. Seorang siswa yang diberikan apresiasi karena prestasi belajarnya yang baik dengan harapan siswa tersebut akan mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Seorang bawahan yang memberikan apresiasi dalam bentuk penghormatan kepada pimpinannya dengan harapan pimpinan tersebut terus berbuat sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Bawahan menghormat atasan akan lebih sering terjadi dibandingkan dengan atasan menghormat bawahan. Namun demikian, atasan akan memberikan apresiasi kepada bawahan lebih sering dibandingkan dengan bawahan memberikan apresiasi kepada atasan. Kondisi tersebut terjadi diseluruh organisasi yang menggunakan sistem birokrasi. Hal tersebut dikarenakan sistem Birokrasi memberikan wewenang yang makin tinggi terhadap struktur yang ada di atas, sehingga banyak hal terkait kondisi individu orang-orang yang ada di dalam organisasi yang sangat tergantung pada atasan. Atasan misalnya berhak memberikan penilaian kinerja bawahan, yang kemudian menyebabkan atasan dapat menentukan karir, gaji, bonus, dan berbagai pendapatan dari bawahan. Karir, gaji, dan bonus adalah hal-hal yang sangat bersifat individual. Oleh karena banyak hal terkait dengan kondisi individual pada orang-orang yang ada di organisasi tersebut ditentukan oleh atasan, maka bawahan akan memberikan penghormatan yang lebih kepada atasan. Seringkali karena satu kondisi hubungan atasan-bawahan yang tidak memiliki ukuran yang jelas, penghormatan bawahan kepada atasan terlihat sangat berlebihan, sehingga akan terlihat sebagai penghormatan yang dibuat-buat.

Teladan yang dilakukan oleh Justin Galtin kepada Usain Bolt merupakan sesuatu yang penting dilakukan oleh pemimpin kepada pengikutnya, oleh atasan kepada bawahan, oleh dosen kepada mahasiswa, oleh para tokoh kepada masyarakatnya, oleh pemenang kepada yang terkalahkan.  Dimanapun kejadiannya kekalahan memang selalu menyakitkan, sebaliknya kemenangan selalu mendatangkan kesenangan dan bahkan kebahagiaan yang sangat tinggi. Timbulnya kebahagiaan yang luar biasa tinggi ini di satu sisi bisa menghilangkan berbagai kecapekan pada otot dan seluruh fisik, bahkan pada beberapa perlombaan yang kemungkinan bisa terluka seperti jenis-jenis olah raga tinju, karate, sepak bola dan beberapa oleh raga full body contact lainnya kebahagiaan yang ditimbulkan dari adanya kemenangan dapat mempercepat sembuhnya luka-luka tersebut. Itulah sebabnya para juara seringkali terlihat tidak pernah kelelahan, sebaliknya orang yang kalah terlihat lesu dan kecapekan.

Oleh karena kebahagiaan tersebut itulah, kemudian seringkali menimbulkan luapan dengan kegembiraan berlebih yang kemudian terwujud dalam bentuk perilaku. Apalagi jika kemenangan tersebut didapatkan dari hasil pertarungan dan perlombaan yang saling mengalahkan dengan lawan. Kegembiraan tersebut seringkali akan berwujud pada ejekan-ejekan, karena selama perlombaan berlangsung tentunya kedua belah pihak saling berusaha menjatuhkan. Disaat inilah akan terlihat watak seseorang sesungguhnya, terutama terkait dengan kebesaran hati dan pengendalian diri.

Penghormatan bermakna “merendahkan” diri ketika semestinya kita bisa “diatas”. Orang yang menghormati orang lain bermakna “meninggikan” orang yang dihormati lebih tinggi dari dirinya. Kejadian ini akan menjadi sangat istimewa tatkala seseorang yang menghormat berada pada posisi “diatas” dan untuk memperoleh posisi diatas tersebut dilakukan dengan sangat bersusah-susah, bahkan penghalang utama adalah orang yang dikalahkan tersebut. Apa yang dicontohkan oleh Justin Galtin terhadap Usain Bolt adalah teladan penting dalam kehidupan manusia yang mestinya dapat ditarik kedalam banyak kehidupan kita berorganisasi.  Galtin yang selalu dikalahkan oleh Bolt dan tidak begitu disuka oleh penonton mampu memberikan penghormatan di depan para penonton dan orang-orang yang melihat langsung siaran TV dari seluruh dunia. Indahnya saling memberi apresiasi dan menghormati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *